Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Filosofi Teras Tentang Apa? Baca Di sini Yuk!

Buku Filosofi Teras


Entah kenapa, belakangan ini gue pingin banget nulis tentang Filosofi Teras. Kenapa, ya? Apa karena hidup lagi tough banget belakangan ini, jadi gue butuh untuk menguatkan diri dengan menulis? Mungkin.


Apapun alasannya, gak ada salahnya untuk menuliskannya di sini. Siapa tau di celah ceritanya, ada yang bisa dipetik oleh pembaca. Siapa tahu di antara kalian yang ditakdirkan membaca tulisan ini, jadi tahu filosofi teras tentang apa.


Oiya, sebelumnya gue mau kasih disclaimer dulu nih. Sebetulnya, gue udah lama gak baca buku ini, kalau ada miss di sana sini harap dimaklumi ya. Meskipun gue cukup yakin dengan kandungan isinya (karena gue dulu membacanya berulang-ulang). Okey, biar gak lama-lama, langsung aja yuk.


Mengenal Filosofi Teras


Secara sederhana, Filosofi Teras adalah aliran filsafat zaman Yunani dan Romawi yang dicetuskan oleh Zeno. Zeno adalah seorang pedagang yang melakukan perjalanan laut menggunakan kapal. Singkat cerita, kapal yang ditumpangi oleh Zeno ini karam. Akhirnya, dia kehilangan seluruh harta benda dan barang dagangannya serta harus menjadi orang asing di negeri orang.


Suatu hari di Athena, dia mengunjungi sebuah toko buku dan menemukan sebuah buku filsafat yang menarik hatinya. Ia pun bertanya kepada pemilik toko itu, di mana ia dapat bertemu dengan filsuf-filsuf seperti penulis buku itu.


Lalu, secara kebetulan, melintaslah Crates. Seorang filsuf aliran Cynic. Si pemilik toko pun akhirnya menunjuk kepadanya. Zeno akhirnya mengikuti Crates untuk belajar darinya.


Seiring berjalannya waktu, Zeno belajar filsafat dari berbagai filsuf yang berbeda. Hingga ia akhirnya mengajar filsafatnya sendiri. Ia senang mengajar di teras pilar (dalam bahasa Yunani disebut Stoa). Jadilah para pengikut ajarannya disebut “kaum Stoa”.


Gitu. Jadi, judul buku Filosofi Teras adalah terjemahan langsung dari Filosofi Stoa yang dicetuskan oleh Zeno. Filosofi ini kemudian disebarkan oleh filsuf-filsuf besar setelahnya seperti Epictetus, Senecca, dan Marcus Aurelius.


Ada banyak sekali hal yang bisa dipelajari dari Filosofi Stoa. Hanya saja, dalam tulisan ini, gue hanya akan membahas fundamentalnya aja, yaitu tentang dikotomi kendali dan hidup selaras dengan alam. Menarik, kan? Yuk, lanjut!


Dikotomi Kendali


Dikotomi kendali adalah hal fundamental dari Filosofi Teras. Jika boleh memilih satu saja untuk diingat dari buku Filosofi Teras, Maka dikotomi kendali harus jadi yang dipilih. Begitulah menurut Mas Henry Manampiring dalam bukunya.


Inti dari dikotomi kendali adalah seperti yang pernah dikatakan oleh filsuf kenamaan Epictetus. Ia berkata kurang lebih seperti ini:


“Some things are up to us, some things are not up to us.”


“Ada hal-hal di bawah kendali (tergantung pada) kita, ada hal-hal yang tidak di bawah kendali (tidak bergantung pada) kita.”


Apa saja hal-hal yang di bawah kendali kita? tidak lain adalah pikiran dan tindakan kita. Lalu, hal-hal yang di luar kendali kita? di antaranya adalah perilaku orang lain, opini orang lain, peristiwa alam seperti cuaca dan bencana alam, dan lain-lain.


Orang mau ngomong apa aja terserahlah. Terserah warga deh pokoknya ehehe. Karena menurut Filosofi Teras, opini dan tindakan orang lain itu di luar kendali kita sehingga kita tidak dapat berbuat banyak.


Sedangkan pikiran dan tindakan kita, itu sepenuhnya berada dalam kendali kita. Nah, inilah yang harus jadi fokus perhatian kita. Tujuan dari dikotomi kendali sebetulnya adalah ini. Agar kita dapat berfokus pada apa yang penting dan signifikan. Sehingga kita bisa hidup lebih efektif dan tangguh.


Sesederhana untuk mendapatkan promosi di tempat kerja misalnya. Kita bisa berupaya dan berusaha untuk mendapatkan promosi naik jabatan (karena ini ada dalam kendali kita), tapi bisa juga lapang dada dengan politik kantor yang anyep dan keputusan atasan (karena ini di luar kendali kita).


See? Jadi, lebih efektif kan?


Hidup Selaras dengan Alam


Selanjutnya, tentang hidup selaras dengan alam. Maksud dari hidup selaras dengan alam adalah kita menjalani hidup senantiasa dengan rasio atau nalar. Gue gak menemukan kata yang tepat untuk ini kecuali kata-kata yang pernah diucapkan oleh Marcus Aurelius. Ia pernah berkata kurang lebih seperti ini:


“Choose not to be harmed, and you won’t feel harmed,”


“Pilihlah untuk tidak terluka, dan kamu tidak akan terluka.”


YES! Pilihlah untuk tidak terluka, dan kamu tidak akan terluka. Inti dari hidup selaras dengan alam adalah untuk menghindarkan kita dari rasa sakit dan kekecewaan yang tidak perlu, dan yang tidak masuk akal.


Sering kali kekecewaan dalam hidup ini adalah hasil dari kelemahan rasio atau logika. Kayak ketika kita sedih berlarut-larut misalnya. Kita semua tahu sedih itu wajar ketika mengalami hal yang di luar ekspektasi, tapi ketika sedih itu berlarut-larut dan berkepanjangan, nalar kita semua tentu akan sepakat bahwa kondisi itu harusnya tidak begitu. Iya, kan?


Banyak contoh yang bisa dibahas untuk ini. Tapi intinya dari hidup selaras dengan alam adalah ini: senantiasa hidup dengan rasio atau nalar. Yah, kalau pikiran lo cukup logis untuk merasa bahagia dalam hidup, mengapakah cari-cari alasan untuk tidak bahagia? Inilah yang gak direstuin oleh filosofi Teras. Tidak selaras dengan alam.


Opini Pribadi


Hemat gue, filosofi ini bagus untuk kadar tertentu. Ketika kadarnya berlebihan, jadinya gak bagus. Kenapa? Karena filosofi ini membuat kita jadi terkesan kayak robot. Hidup hanya mengandalkan nalar, berpotensi untuk mengabaikan keberadaan emosi. Padahal, manusia itu bukan hanya makhluk rasional, tapi juga emosional. Hal ini bisa jadi gak sehat dan memberatkan.


Selain itu, terlalu mengandalkan nalar membuat kita tidak merasakan sesuatu. Don’t feel anything. Tidak seru. Tidak merayakan hidup. Seperti robot.


Nah itulah tulisan singkat mengenai filosofi teras tentang apa. Gimana menurut lo? Filosofi ini oke, nggak? Kalau lo suka dengan tulisan ini, lo mungkin akan suka juga dengan quotes Filosofi Teras berikut ini: My Kind of Quotes Part 2, Filosofi Teras.

4 komentar untuk "Filosofi Teras Tentang Apa? Baca Di sini Yuk!"

  1. Mantap bang, jangan lupa kunbal 😁😁

    BalasHapus
  2. Setelah 5 bulan, baru kelar baca buku ini. Pelan-pelan banget bacanya, biar meresapi (atau emang males). Wkwk

    Buku yg bagus, setelahnya jadi pengen baca "Meditation" dari Marcus Aurelius. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Si Dika punya tuuh bukunyaa. Yuk, pinjem!

      Hapus