Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Prinsip Fundamental Filosofi Stoa yang Sangat Praktikal

Image by wirestock on Freepik

Apa itu prinsip Stoa? - Filosofi Stoa atau yang biasa diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan Filosofi Teras memang terkenal sangat praktikal. Tidak seperti aliran filsafat lainnya yang terkesan 'njelimet' dan banyak teorinya, filosofi Stoa justru lebih menekankan pada praktik di kehidupan sehari-hari.

Ada banyak sekali bahasan dalam Filosofi Stoa yang kemudian melahirkan prinsip-prinsip untuk menjalani hidup dengan keberanian, keadilan, dan kebijaksanaan. Namun, setidaknya ada 2 prinsip fundamental yang sangat praktikal dari Filosofi Stoa yang perlu digenggam erat oleh siapa pun yang menyatakan dirinya sebagai seorang Stoik.

1. Dikotomi Kendali

Dikotomi kendali adalah prinsip Filosofi Stoa yang sangat fundamental. Prinsip ini menegaskan bahwa dalam hidup ini ada hal-hal yang berada di dalam kendali kita dan ada pula yang di luar kendali kita. Dengan mampu membedakan mana yang berada di dalam kendali dan mana yang berada di luar kendali, diharapkan kita mampu memberikan fokus yang semestinya kepada sesuatu hal.

Tentu akan sangat membuang-buang waktu dan tenaga ketika kita berfokus pada hal-hal yang di luar kendali kita, bukan?

Lantas, apa saja hal-hal yang berada di dalam kendali kita? Menurut para filsuf Stoa, hal-hal yang berada dalam kendali kita tidak lain adalah pikiran dan tindakan kita. Sedangkan hal-hal yang di luar kendali atau tidak dapat kita kendalikan adalah pikiran orang lain, tindakan orang lain, cuaca, bencana, dan bahkan kesehatan kita pun tidak berada dalam kendali kita, lho.

Pernah dengar seseorang mengalami kecelakaan lalu lintas akibat kelalaian orang lain? Hal ini adalah salah satu contoh bahwa kesehatan kita pun ternyata tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita.

Itulah mengapa ada pengklasifikasian lain terkait kendali dalam Filosofi Teras. Selain dikotomi kendali, ada yang disebut dengan trikotomi kendali, yakni ada hal-hal di bawah kendali kita, ada hal-hal di luar kendali, dan ada hal-hal yang sebagian masih bisa kita kendalikan.

2. Hidup Selaras dengan Alam

Prinsip Stoa berikutnya yang fundamental adalah hidup selaras dengan alam. Maksudnya, kita hidup dan berperilaku tidak bertentangan dengan kehendak alam atau yang "diinginkan alam". Dengan menyelaraskan harapan dan kenyataan yang terjadi di dunia nyata, yaitu di alam, kita akan senantiasa hidup dalam ketenangan batin dan pikiran.

Bukankah kesedihan dan penderitaan dalam hidup terjadi karena kita menginginkan kenyataan lain yang bertentangan dengan keinginan alam (yang benar-benar terjadi)?

Penderitaan yang kita rasakan dalam hidup itu karena belum bisa berdamai dengan kenyataan. Atau dengan kata lain, belum bisa hidup selaras dengan alam.

Kemudian, hidup selaras dengan alam juga dapat diartikan sebagai hidup dengan mengandalkan logika atau rasio. Kita sebagai manusia pada hakikatnya adalah bagian dari alam, termasuk akal dan pikiran kita. Maka, hidup selaras dengan alam berarti hidup dengan logika yang sehat dan rasional.

Sebagai contoh, ketika mengalami kesedihan akibat mengalami penolakan, misalnya. Kesedihan yang kita rasakan itu normal dan wajar. Namun, ketika kita merasa sedih berlarut-larut, hal ini sudah lain cerita. Boleh jadi kita sudah mulai "menikmati" kesedihan itu dan secara logika seharusnya tidak begitu.

Atau perihal menyikapi kematian. Apakah kematian itu hal yang menakutkan sehingga perlu dihindari atau kematian itu adalah bagian dari kehidupan yang kita semua akan mengalaminya?

Nah, Filosofi Stoa mengajak kita untuk merenungkan pikiran kita dan memikirkannya kembali. Apa yang membuat kita sedih sebenarnya? Pantaskah kita sedih karena hal itu? Apa keyakinan yang saya miliki ini sudah benar? dan sebagainya.

Demikianlah 2 prinsip Filosofi Stoa yang fundamental dan praktikal. Intinya, kemampuan membedakan hal-hal yang berada di dalam kendali dari yang di luar kendali kita, serta kerelaan untuk hidup selaras dengan ritme alam adalah prinsip dasar dari hidup yang tenang dan damai ala Filosofi Stoa. Semoga bermanfaat.


"Beberapa hal ada dalam kendali kita, sementara beberapa hal lainnya tidak. Kita mengendalikan opini, pilihan, hasrat, keengganan, dan, singkatnya, segala sesuatu yang adalah perbuatan kita sendiri. Kita tidak mengendalikan tubuh, properti, reputasi, posisi, dan, pendek kata, segala sesuatu yang tidak kita lakukan sendiri. Terlebih, segala sesuatu yang kita kendalikan itu secara alamiah gratis, tanpa rintangan, tanpa kendala, sementara segala hal yang tidak kita kendalikan itu lemah, jinak, bisa terhalang, dan bukan milik kita. - Epictetus, Enchiridion, 1.1-2.




Posting Komentar untuk "Prinsip Fundamental Filosofi Stoa yang Sangat Praktikal"