Filosofi Teras untuk Hidup yang Lebih Waras

Dulu, ketika wisuda, seorang teman memberikan saya buku berjudul Filosofi Teras. Sebuah buku yang terbit pada tahun 2018, ditulis oleh Henry Manampiring. Seorang teman yang lain memberikan saya sebatang rokok yang saya tidak tahu persis apa merk-nya. Rokok tersebut dihias dengan pita.



Tapi bukan rokok itu yang ingin saya bahas, melainkan bukunya. Kenapa? Karena menurut saya, buku ini bagus. Saking bagusnya saya bahkan membacanya berulang-ulang. Ada banyak manfaat yang saya peroleh dari buku ini sehingga saya merasa perlu untuk menuliskannya disini.


Buku ini diawali dengan bahasan Survei Khawatir Nasional yang dilakukan oleh Om Piring (panggilan Mas Henry Manampiring) saat sedang mempelajari Filosofi Teras. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah orang-orang lain khawatir tentang hidupnya, dan apa yang paling mereka khawatirkan.


Selain itu, buku ini juga diawali dengan cerita singkat mengenai Om Piring yang divonis mengidap “Major Depressive Disorder”. Suatu istilah keren medis dari “depresi”. Tentu saja, depresi disini adalah betul-betul kondisi medis beneran, bukan istilah yang sering kali digunakan oleh para generasi Millenial secara hiperbola, seperti, Depresi banget gue, kata abangnya martabak udah abis! Atau Duh enak banget kak seblaknya, jadi pen meninggal.


Secara sederhana, Filosofi Teras dijelaskan dalam buku ini sebagai hidup selaras dengan alam dan dikotomi kendali. Maksud dari selaras dengan alam adalah kita hidup senantiasa dengan rasio atau nalar, sedangkan dikotomi kendali adalah seperti yang diucapkan oleh filsuf kenamaan Epictetus berikut ini,


Some things are up to us, some things are not up to us.


“Ada hal-hal di bawah kendali (tergantung pada) kita, ada hal-hal yang tidak di bawah kendali (tidak tergantung pada) kita.”


Menjadi seorang Stoic atau seorang pengamal filosofi Teras berarti meyakini bahwa ada hal-hal di dalam kendali kita sehingga pantas untuk jadi pusat perhatian kita. Serta pada saat yang sama meyakini bahwa ada hal-hal di luar kendali kita sehingga kita dapat berserah, menerima.


Ada banyak sekali contoh yang bisa diberikan mengenai dikotomi kendali. Tapi setidaknya ada contoh sederhana yang bisa dijabarkan agar kita lebih jelas memahaminya.


Contoh dari hal-hal di luar kendali kita: opini orang lain, perlakuan orang lain, dan cuaca hari ini. Apabila seorang Stoic terjebak hujan dalam perjalanan pulang misalnya, ia tidak akan mengumpat. Alih-alih mengumpat ia justru akan berpikiran positif, seperti "Alhamdulillah hujan, berkah dari langit." atau "dengan hujan ini setidaknya aku bisa mampir makan bakso di dekat kantor".


Sebaliknya, perilaku kita, pikiran kita itu sepenuhnya ada dalam kendali kita sehingga seorang Stoic akan memusatkan fokusnya kepada hal ini. Dan berusaha mendapatkan keuntungan darinya.


Saya jadi ingat saat bulan lalu berencana naik ke gunung Gede bersama dua orang teman. Kami sangat excited waktu itu. seorang teman bahkan mengambil cuti cukup panjang. Tapi semesta berkata lain, kunjungan ke Gede ternyata ditutup. Entah untuk alasan apa. Tentu kami kecewa. Lalu seorang teman akhirnya bilang, “mungkin gue emang belum dibolehin naik saat ini. Mungkin ada hal lain yang perlu gue siapin.”


Tanpa sadar teman saya itu sudah mengamalkan Filosofi Teras.


Dengan kata lain, seorang Stoic adalah orang yang hanya memikirkan yang penting. Seseorang yang paham bahwa ruang mental di kepalanya itu terbatas dan sangat berharga sehingga hanya pantas diisi oleh hal-hal yang signifikan.


Itu mengenai dikotomi kendali.


Selanjutnya adalah hidup selaras dengan alam. Yang dimaksud hidup selaras dengan alam adalah berserah dan hidup dengan rasio atau nalar. Saya tidak menemukan kata yang tepat untuk ini selain perkataan Kaisar Romawi Marcus Aurelius zaman dahulu kala,


“Choose not to be harmed, and you won’t feel harmed,”


“Pilihlah untuk tidak terluka, dan kamu tidak akan terluka.”


Seringkali yang membuat kita terluka atau tersakiti dalam hidup adalah pikiran kita sendiri, bukan orang lain. Ekspektasi berlebihan pada orang lainlah yang melukai kita. Hal ini, bukanlah hal yang direstui oleh Filosofi Teras karena tidak selaras dengan alam atau rasio.


Begitulah tulisan singkat mengenai buku Filosofi Teras. Saya dapat bilang bahwa buku ini recommended banget. Walaupun untuk orang yang tidak minat dengan filsafat. Pembahasan di buku ini ringan sehingga cocok dibaca oleh semua kalangan.


Disclaimer: Artikel ini pernah dipublikasikan di indonesiana.id. Berikut link-nya:


https://www.indonesiana.id/read/149252/filosofi-teras-untuk-hidup-yang-lebih-waras

Posting Komentar untuk "Filosofi Teras untuk Hidup yang Lebih Waras"

Seedbacklink