Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bahas Film ‘Jatuh Cinta Seperti di Film-Film’

Hai guys! Selamat hampir tahun baru 😀 Berhubung malam ini gue gak tau mau ngapain, maka gue segera meluncur ke depan laptop buat nyeritain film Indonesia yang menurut gue bagus banget, judulnya “Jatuh Cinta Seperti di Film-Film”.

FYI, gue dateng dan nonton film-nya agak telat, tapi itu gak mengurangi keseruan yang gue dapetin selama nonton film ini.

Mungkin karena telatnya gak terlalu lama, ya. Jadi tetep dapet poin ceritanya.

Ini beberapa hal yang gue suka dari film ini:

1. Akting Bagus

Karena cerita berjalan dominan berlatar hitam-putih plus lebih banyak dialog dibanding bercerita dari satu adegan ke adegan lain, penonton jadi terfokus sama akting pemainnya dibandingkan distraksi lain yang biasanya ada di film berwarna.

Dan di film ini, setiap pemerannya, sukses membawa perhatian penonton tidak terlepas dari mereka.

2. Humornya Dapet

Waktu nonton film ini, beberapa kali gue ketawa duluan karena tahu punchline-nya bakal ke mana.

Salah satunya adalah ketika adegan Ibu Yati (atau Yeti? atau siapalah namanya) yang ternyata kerja bareng sama suami, anak, dan ponakannya di toko bunga Hana. Buat tau lucunya di mana mending langsung nonton sendiri deh.

Sumber: klasika.kompas.id

3. Menjelaskan Struktur Film

Jadi, ada scene di mana Bagus menjelaskan kepada Hana tentang sequence dalam sebuah film. Dan film ini juga dengan gamblang memberi tahu penonton sedang di bagian apa (sequence) cerita berjalan.

Ada 8 sequence yang dijelaskan Bagus kepada Hana, tapi biar gampang gue menuliskannya, intinya di dalam film tuh ada meet cute (pertemuan yang manis yang masuk ke dalam bagian pengenalan tokoh), ada tujuan, ada tantangan yang dialami tokoh, ada yang dipertaruhkan, dan ada hasil akhir.

Gue seneng banget karena jadi tahu struktur film tuh kayak apa.

4. Manisnya Pas

Ibarat MSGnya Indomie yang udah diplastikin: takarannya PAS *apesi*.

Meskipun ceritanya tentang jatuh cinta, tapi ini emang keliatan banget sih target penontonnya orang-orang yang udah bukan remaja lagi.

Jadi cerita “jatuh cinta” di sini tuh berasa relate aja gitu. Gue yakin lu juga kalau nonton bakal berasa berkaca sama filmya.

Gue jadi inget salah satu dialog di mana Bagus bilang, “film dapat menjadi cerminan untuk kita belajar tentang kehidupan." Ahzeg.

Yaaah buat sobat-sobat aq yang sudah melewati masa-masa penuh ego, pasti kalian akan seperti berkaca ke diri sendiri. WKWKWK.

Di usia sekarang kayaknya kita tuh penginnya liat orang yang kita sayang bahagia aja gak si, dan gak mau berekspektasi terlalu gimana-gimana.

Eh ini apa gue doang ya? Yahh, maap halu. Intinya “jatuh cinta” di film ini relate lah buat kita-kita.

5. Chemistry-nya dapet

Chemistry setiap pemainnya dapet. Akting bagus. Terasa ceritanya mengalir natural dan gak dipaksakan.


Itu aja sih yang mau gue share di sini. Gue menulis tulisan ini sebenernya cuma mau bilang, kalau ada waktu luang, terutama liburan ini, nonton deh “Jatuh Cinta Seperti di Film-Film.”

Posting Komentar untuk "Bahas Film ‘Jatuh Cinta Seperti di Film-Film’"